Sabtu, 05 Oktober 2013

Moetode Pembelajaran Behaviorisme dan Kognitifisme beserta pengaplikasiannya

Tugas Pertama

TEORI BEHAVIORISME DAN APLIKASINYA


Pengartian Belajar Menurut Pandangan Teori Behavioristik
Menurut teori behavioristik, belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai akibat dari adannya interaksi antara stimulus dan respon. Dengan kata lain, belajar metupakan bentuk perubahan yang dialami siswa dalam hal kemampuanya untuk bertingkah laku dengan cara yang baru sebagai hasil interaksi antara stimulus dan respon. Seseoran dianggap telah belajar sesuatu jika ia dapat menunjukan perubahan tingkah lakunya. Sebagai contoh, anak belum dapat berhitrung perkalian. Walaupun ia sudah berusaha giat, dan gurunyapun sudah mengajarkanya dengan tekun, namun jika anak tersebut belum dapat mempraktekan pehitungan perkalian, maka ia belum dianggap belajar. Karna ia belum dapat menunjukan suatu perubahan peilaku sebagai hasil belajar.


Menurut teori ini yang terpenting adalah masukan atau input yang berupa stimulus dan kelluaran atau output yang berupa respon. Dalam contoh di atas, stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada siswa misalnya daftar perkalian, alat peraga, pedoman kerja, atau cara-cara tertentu, untuk menbantu belajar siswa, sedangkan respon adalah reaksi atau tanggapan siswa terhadap stimulus yang diberikan oleh guru tersebut. Menurut teori behavioristik, apa saja yang terjadi diantara stimulus dan respon dianggap tidak penting diperhatikan kerena tidak dapat diamati dan tidak dapat diukur. Yang dapat diamati hanyalah stimulus dan respon. Oleh sebab itu, apa saja yang diberikan guru (stimulus), dan apa saja yang dihasilkan siswa (respon), semuanya harus dapat diamati dan diukur. Teori ini mengutamakan pengukuan, sebab pengukuran merupakan suatu hal yang penting untuk melihat terjadi tidakny perubahab tingkah laku tersebut.


Faktor lain yang juga dianggap penting penting oleh aliran behavioriatik adalah faktor penguatan (reinforcement). Penguatan adalah apa saja yang dapat memperkuat timbulny respon. Bila penguatan ditambahkan (positive reinforcement) maka respon akan semakin kuat. Begitu juga bila  penguatan dikurangi (negative reinforcement) responpun akan tetap dikuatkan. Misalnya, bila peserta didik diberi tugas oleh guru, ketika tugasnya ditambahkan maka ia akan semakin giat belajarnya. Maka penambahan tugas tersebut merupakan penguatan positif (positive reinforcement) dalam belajar. Bila tugas-tugas dikurangi dan pengurangan ini justru meningkatkan aktifitas belajarnya, maka pengurangan tugas merupakan penguatan negatif (negative reinforcement) dalam belajar. Jadi penguatan merupakan suatu bentuk stimulus yang penting diberikan (ditambahkan) atau dihilangkan (dikurangi) untuk memungkinkan terjadinga respon.

Tokoh-tokoh aliran beavioristik diantaranya adalah Thorndike, Watson, Carlk Hull, Edwin Guthrie, dan Skiner. Pada dasarnya para penganut aliran bhavioristik setuju dengan pengertian belajar di atas, namun ada perbedaan beberapa pendapat diantara mereka.

Aplikasi Teori Behavioristik dalam Kegiatan Pembelajara
Di awal pembelajaran Bahasa Inggris ini seorang guru baiknya memperhatikan perkembangan siswanya, karana jika dari awal siswa merespon baik dan mendapatkan hasil yang baik dalam awal pembelajaran maka ditingkat-tingkat pembelajaran yang lebih lanjut siswa akan dapat hasil yang baik, sebaliknya jika dari awal pembelajaran saja siswa sudah menunjukan hasil yang buruk maka siswapun akan mendapatkan kesulitan dalam belajar. Oleh karena itu, perhatian guru terhadap siswa di sini sangat penting. Contoh pembelajaran yang bisa diambil dari contoh pelajaran di atas antara lain :
  • Menganalisis lingkungan kelas yang ada saat itu termasuk mengidentifikasi pengetahuan awal siawa.
Seorang guru wajib mengenal karakteristik murid-muridnya juga daya tangkap murid-muridnya dalam pembelajaran yang diberikan seperti di atas.
  • Memberikan stimulus, dapat berupa: pertanyaan baik lisan maupun tertulis, tes/kuis, latihan, atau tugas-tugas.
Di dalam pelajaran yang saya berikan di atas guru bisa memberikan perhatian pada siswa berupa memberikan tugas menghafal dengan tuntutan siswa-siswa nantinya maju ke depan dan diberikan pertanyaan-pertanyaan tentang tugas-tugas hafalan itu sendiri dan untuk menambah semangat siswa, guru bisa memberikan nilai bagi siswa yang hafal lebih banyak dan siswa yang kurang hafal guru bisa memberikan teguran atau diberikan tugas-tugas agar bisa belajar lagi di rumah. Dalam pelajaran bahasa inggris di atas guru juga bisa membuat kuis atau permainan agar siswa bisa lebih semangat dalam belajar, misalnya guru membuat beberapa kelompok dari murid yang ada kemudian dari tiap kelompok wajib menunjuk satu anggotanya untuk memperagakan soal-soal yang ada di atas sesuai perintah guru kemudian teman-temannya menjawab apa yang diperagakan oleh temannya itu bahasa inggris apabila teman-temannya tidak bisa menjawab maka bisa dijawab kelompok lain jadi jika mereka tidak bisa menjawab nilai akan diambil kelompok lain, dengan begitu siswa akan berusaha berfikir lebih keras untuk mengingat.

  • Mengamati dan mengkaji respons yang diberikan siswa.
Jika ada siswa yang bertanya guru harus bisa menjawab dsn menjelaskannya hingga siswa bener-benar mengerti, dan bila ada siswa yang kurang mengerti atau kurang aktif guru perlu memberikan pertanyaan-pertnyaan untuk memaksa siswa aktif di kalas.

  • Memberikan penguatan/reinforcement (mungkin penguatan positif ataupun penguatan negatif), ataupun hukuman yang bersifat mendidik.
Jika di dalam kalas atau di dalam pelajaran itu siswa ada yang kurang memperhatikan atau mengabaikan pelajaran guru, guru bisa memberikan hukuman agar siswa jerah dan tidak berani mengulanginya lagi juga lebih memperhatikan guru saat guru mengajar.

  • Evaluasi hasil belajar.
Setelah guru melakukan langkah-langkah pembelajaran, guru hendaknya melakukan evaluasi tentang bagaimana hasil belajar siswanya untuk mengetahui seberapa jauh siswa dapat mengetahui dan memahami pembelajaran yang telah diberikan. jika hasil evaluasi belajar siswa dapat merespon dengan baik dan menjadikan siswa merasa nyaman dalam belajar maka pembelajaran dianggap berhasil,tetapi sebaliknya jika hasil evaluasi belajar siswa tidak dapat merespon dengan baik dengan apa yang telah diberikan dan siswa tidak bisa nyaman dalam belajar,maka pembelajaran dianggap gagal yang berakibat siswa kurang aktif  dan hasil belajar atau nilai yang kurang memuaskan.



TEORI KOGNITIF DAN APLIKASINYA

Pengartian Belajar Menurut Pandangan Teori Kognitif

Teori belajar kognitif agak berbeda dengan teori behavioristik dalam pemahamannya tentang belajar. Menurut ahli psikologi kognitif ada sesuatu yang penting tidak ditemukan dari konsep “Operant-conditioning” yaitu apa yang sebetulnya terjadi di dalam diri seseorang pada saat belajar. Misalnya tentang bagaimana terjadinya proses belajar dalam diri siswa. Semua pendekatan teori belajar prilaku tampaknya kurang mengindahkan proses-proses mental yang terjadi selama proses belajar seperti persepsi siswa, pemahaman dan kognisi dari hubungan esensial antara unsur-unsur yang terjadi dalam situasi belajar. Ahli belajar kognitif memandang bahwa belajar bukan semata-mata proses perubahan tingkah laku yang tampak, namun sesuatu yang komplek yang sangat dipengaruhi oleh kondisi mental si belajar yang tidak tampak, oleh karenanya dalam pembelajaran di kelas seorang guru perlu memperhatikan kondisi siswa yang berhubungan dengan persepsi, perhatian , motivasi dan lain-lain. 

Menurut teori ini insight adalah pemahaman dasar yang dapat diaplikasikan pada beberapa situasi yang sama atau hampir sama. Insight adalah pemahaman terhadap suatu situasi yang lebih mendalam daripada kata-kata dan secara sadar memahami masalah. Jadi insight adalah inti dari pemahaman.
Berdasarkan berbagai pandangan di atas, maka prinsip-prinsip dasar teori belajar kognitif dapat dirumuskan sebagai berikut :
1. Belajar merupakan peristiwa mental yang berhubungan dengan berfikir, perhatian, persepsi, pemecahan masalah dan kesadaran walaupun tidak tampak merupakan sesuatu yang diteliti.
2. Sehubungan dengan pembelajaran, teori belajar perilaku dan kognitif pada akhirnya sepakat bahwa guru harus memperhatikan perilaku si belajar yang tampak seperti penyelesaian tugas rumah, hasil tes, di samping itu juga harus memperhatikan faktor manusia dan lingkungan psikologisnya.
3. Ahli kognitif percaya bahwa kemampuan berfikir orang tidak sama antara yang satu dengan yang lain dan tidak tetap dari waktu ke waktu yang lain. 


Aplikasi dalam Teori kogitif dalam pembelajaran


Hakekat belajar menurut teori kognitif dijelaskan sebagai suatu aktifitas belajar yang berkaitan dengan penataan informasi, reorganisasi perseptual, dan proses internal. Kegiatan pembelajaran yang berpijak pada teori belajar kognitif ini sudah banyak digunakan. Dalam merumuskan tujuan pembelajaran, mengembangkan strategi dan tujuan pembelajaran, tidak lagi mekanistik sebagaimana dilakukan dalam pendekatan behavioristik. Kebebasan dan keterlibatan siswa secara aktif dalam proses belajar amat diperhitungkan, agar belajar lebih bermakna bagi siswa. Sedangkan kegiatan pembelajarannya mengikuti prinsip-prinsip sebagai berikut:
  1. Siswa bukan sebagai orang dewasa yang mudah dalam proses berpikirnya. Mereka mengalami perkembangan kognitif melalui tahap-tahap tertentu.
  2. Anak usia pra sekolah dan awal sekolah dasar akan dapat belajar dengan baik, terutama jika menggunakan benda-benda kongkrit.
  3. Keterlibatan siswa secara aktif dalam belajar amat dipentingkan, karena dengan hanya mengaktifkan siswa maka proses asimilasi dan akomodasi pengetahuan dan pengalaman dapat terjadi dengan baik.
  4. Untuk menarik minat dan meningkatkan retensi belajar perlu mengkaitkan pengalaman atau informasi baru dengan setruktur kognitif yang telah dimiliki si belajar.
  5. Pemahaman dan retensi akan meningkat jika materi pelajaran disusun dengan menggunakan pola atau logika tertentu, dari sederhana ke kompleks.
  6. Belajar memahami akan lebih bermaknsa daripada belajar menghafal. Agar bermakna, informasi baru harus disesuaikan dandihubungkan dengan pengetahuan yang telahdimiliki siswa. Tugas guru adalah menunjukkan hubungan antara apa yang sedang dipelajari dengan apa yang telah diketahui siswa.
  7. Adanya perbedaan individual pada diri siswa perlu diperhatikan, karena faktor ini sangat mempengaruhi keberhasilan belajra siswa. Perbedaan tersebut misalnya pada motivasi, persepsi, kemampuan berpikir, pengetahuan awal, dan sebagainya 
Daftar Pustaka

fatinahmunir.blogspot.com/2012/11/penerapan-teori-belajar-kognitivisme.html

http://jcruyf77.wordpress.com/2009/11/22/teori-belajar-behavioristik-dan-aplikasinya/
 











Tidak ada komentar:

Posting Komentar